Manajemen Kurikulum

TUGAS PROFESI KEPENDIDIKAN

MAKALAH MANAJEMEN KURIKULUM

 uns

Disusun Oleh       :

Nama             : Dyah Ernawati

NIM              : K3311021

Prodi/Kelas    : Pendidikan Kimia/A

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2013

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah S.W.T, karena atas berkat limpahan rahmat- Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Manajemen Kurikulum. Makalah ini disusun guna memenuhitugas mata kuliah Perkembangan Peserta Didik. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat waktu.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauhdari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangundemi kesempurnaan makalah ini.Semoga makalah ini dapat memberikan informasi dan menambah pengetahuan bagi para pembaca dan bermanfaat untuk  pengembangan ilmu pengetahuan.

Penyusun

Dyah Ernawati

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………………………………………………………….. 2

DAFTAR  ISI  …………………………………………………………………………………………………………………… 3

BAB  I PENDAHULUAN………………………………………………………………………………………………………….. 4

  1. Latar Belakang Masalah   …………………………………………………………………………………………………. 4
  2. Rumusan Masalah    ………………………………………………………………………………………………………….. 7
  3. Tujuan Penulisan                                                                                                                                 7

BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………………………………………………………………….. 8

  1. Pengertian Manajemen Kurikulum……………………………………………………………………………………..8
  2. Tujuan Manajemen Kurikulum    ………………………………………………………………………………………… 10
  3. Ruang Lingkup Manajemen Kurikulum  ……………………………………………………………………………………. 11
  4. Fungsi Manajemen Kurikulum …………………………………………………………………………………………………. 13
  5. Prinsip Manajemen Kurikulum……………………………………………………………………………………….15
  6. Komponen Manajemen Kurikulum     ……………………………………………………………………………………….. 17
  7. Proses Manajemen Kurikulum……………………………………………………………………………………………… 21

v  Manajemen Perencanaan Kurikulum     ……………………………………………………………………………………… 21

v  Manajemen Pengorganisasian Dan Pelaksanaan Kurikulum.      …………. ………………………………………..30

v  Manajemen Pemantauan Dan Penilaian Kurikulum ……………………………………………………………………..34

  1. Kasus …………………………………………………………………………………………………………………………..36
  2. Perbaikan Kurikulum……………………………………………………………………………………………………..40

BAB III PENUTUP………………………………………………………………………………………………………………………. 42

  1. Kesimpulan   …………………………………………………………………………………………………………………….. 42

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………………………………………… 45

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Tujuan pendidikan Nasional di Indonesia tentu saja bersumber pada pandangan dan cara hidup manusia Indonesia, yakni Pancasila. Sebagai implikasi dari nilai-nilai filsafat pancasila yang dianut bangsa Indonesia, dicerminkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional seperti terdapat dalam UU No. 20 tahun 2003, yaitu : Pendidikan nasional berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beiman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, bereilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (pasal 2 dan 3).

Menurut Tyler (1946), Taba (1963) dan Tanner (1984) menyatakan tuntutan masyarakat adalah salah satu dasar dalam pengembangan kurikulum. Calhoun, Light, dan Keller (1997) memaparkan tujuh fungsi sosial pendidikan, yaiut : (1) mengajar keterampilan, (2) mentramisikan budaya, (3) mendorong adaptasi lingkungan, (4) membentuk kedisiplinan, (5) mendorong bekerja kelompok, (6) meningkatkan perilaku etik, dan (7) memilih bakat dan memberi penghargaan prestasi.

Tujuan pendidikan pada dasarnya merupakan rumusan yang komprehensif mengenai apa yang seharusnya dicapai. Herbert Spencer dalam Nasution (1982) mengungkapkan lima kajian sebagai sumber dalam merumuskan tujuan pendidikan, yaitu :

  1. Self-Preservation, yaitu individu harus dapat menjaga kelansungan hidupnya dengan sehat, mencegah penyakit, hidup secara teratur.
  2. Securing the necssitties of life, yaitu individu yang harus sanggup mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan hidup dengan melakukan suatu pekerjaan.
  3. Reaning of familiy, yaitu individu juga harus mampu menjadi menjadi ibu yang sanggup bertanggung jawab atas pendidikan anaknya dan kesejahteraan keluarganya.
  4. Enjoying proper social and political relationships, yaitu individu harus sanggup memanfaatkan waktu senggangnya dengan memilih kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dan menambah kenikmatan dan kegairahan hidup.

Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat srategis dalam seluruh aspek kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya peranan kurikulum  di dalam pendidikan dan perkembangan kehidupan peserta didik, maka dalam penyusunan kurikulum tidak bisa dilakukan tanpa menggunakan landasan yang kokoh dan kuat.

Landasan pengembangan kurikulum tidak hanya dipergunakan bagi para penyusun  kurikulum (makro atau kurikulum tertulis yang sering disebut juga sebagai kurikulum ideal, akan tetapi terutama yang harus dipahami dan dijadikan dasar pertimbangan oleh para pelaksana kurikulum (mikro) yaitu para guru, kepala sekolah, pengawas pendidikan dan pihak-pihak lain yang terkait dengan tugas-tugas pengelolaan pendidikan, sebagai bahan untuk dijadikan implementasi kurikulum disetiap jenis dan jenjang pendidikan/persekolahan. Dengan posisinya yang penting tersebut, maka dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum tidak bisa dilakukan secara sembarangan, dalam melakukan proses penyelenggaraan  pendidikan, sehingga dapat menfasilitasi tercapainya sasaran pendidikan dan pembelajaran secara efektif dan efesien.

Suatu bangunan kurikulum memiliki empat komponen yaitu komponen tujuan, isi, materi, proses pembelajaran, dan komponen evaluasi, maka agar setiap komponen bsia menjalankan fungsinya secara tepat dan besinergi, maka perlu ditopang oileh sejumlah landasan, yaitu landasan filosofis sebagai landasan utama, masyarakat  dan kebudayaan, individu (peserta didik), dan teori-teori belajar. Dapat disimpulkan bahwa dalam pengembangan kurikulum dikelompokkan kedalam empat jenis yaitu : landasan filosofis, landasan psikologis, landasan sosiologis, dan landasan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

Dalam melakukan suatu kegiatan dalam pendidikan pun tidak akan lepas dari manajemen yang tentunya manajemen tersebut merupakan usaha untuk mensukseskan tujuan pendidikan. Diperlukan adanya penataan, pengaturan, pengelolaan, dan kegiatan yang sejenis yang berkaitan dengan lembaga pendidikan yang bertujuan untuk mengembangkan sumber daya manusia yang mengacu pada upaya agar dapat didayagunakan seoptimal mungkin. Untuk mewujudkan tujuan pendidikan itu , terutama di sekolah, perlulah sebuah kurikulum.

Kurikulum adalah suatu sistem yang mempunyai komponen-komponen yang saling berkaitan erat dan menunjang satu sama lain. Komponen-komponen kurikulum tersebut terdiri dari tujuan, materi pembelajaran, metode, dan evaluasi. Dalam bentuk sistem ini kurikulum  akan berjalan menuju suatu tujuan pendidikan dengan adanya saling kerja sama diantara seluruh subsistemnya. Apabila salah satu dari variabel kurikulum tidak berfungsi dengan baik maka sistem kurikulum akan berjalan kurang baik dan maksimal. Agar kurikulum bisa berjalan dengan baik, perlu manajemen kurikulum. Manajemen kurikulum adalah segenap proses usaha bersama untuk memperlancar pencapaian tujuan pengajaran dengan titik berat pada usaha meningkatkan kualitas interaksi belajar mangajar. Dalam kegiatan tersebut diperlukan adanya perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi yang merupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu hal – hal yang berkenaan dengan manajemen kurikulum akan dibahas pada bab selanjutnya.  Maka dalam penerapan pelaksanaan kurikulum, seorang yang mengelola lembaga pendidikan harus menguasai ilmu manajemen, baik untuk mengurus pendidikan ataupun kurikulumnya. Dalam makalah ini penulis akan menerangkan tentang apa itu manajemen kurikulum secara lebih mendetail.

  1. RUMUSAN MASALAH
    1. Apa pengertian dari manajemen kurikulum?
    2. Apakah tujuan dari manajemen kurikulum ?
    3. Apa ruang lingkup dari manajemen kurikulum?
    4. Apakah prinsip,fungsi dan komponen manajemen kurikulum ?
    5. Bagaimana manajemen perencanaan kurikulum ?
    6. Bagaimana manajemen dalam pelaksanaan kurikulum ?
    7. Bagaimana manajemen dalam pengawasan atau penilaian kurikulum ?
    8. Bagaimana manajemen dalam perbaikan kurikulum dan kasus?
  2. TUJUAN PENULISAN
  1. Mahasiswa memahami pengertian manajemen kurikulum.
  2. Mahasiswa memehami tujuan manajemen kurikulum.
  3. Mahasiswa memahami ruang lingkup manajemen kurikulum.
  4. Mahasiswa memahami prinsip, fungsi dan komponen manajemen kurikulum.
  5. Mahasiswa memahami perencanaan kurikulum.
  6. Mahasiswa memahami manajemen dalam pelaksanaan kurikulum.
  7. Mahasiswa memahami manajemen dalam pengawasan atau penilaian kurikulum.
  8. Mahasiswa memahami manajemen dalam perbaikan kurikulum

BAB II

PEMBAHASAN

  1. PENGERTIAN MANAJEMEN KURIKULUM

Undang-Undang nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 1 butir 9 disebutkan bahwa Kurikulum adalah: (1) seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan (2) bahan pelajaran, serta (3) cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar. Kurikulum sendiri mempunyai arti yang sempit dan arti yang luas. Kurikulum dalam arti sempit adalah jadwal pelajaran atau semua pelajaran baik teori maupun praktek yang diberikan kepada siswa selama mengikuti suatu proses pendidikan tertentu. Sedangkan dalam arti luas kurikulum diartikan sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Undang-undang nomor 2 tahun 1989). Manajemen kurikulum mempunyai perngertian adalah segenap proses usaha bersama untuk memperlancar pencapaian tujuan pembelajaran dengan titik berat pada usaha meningkatkan kualitas interaksi belajar mangajar.[1]

Sebenarnya terdapat tiga jenis organisasi kurikulum yaitu:

  • Kurikulum Terpisah (Sparated Subject Curriculum) di mana bahan pelajaran disajikan secara terpisah – pisah seolah – olah ada batas antara bidang studi dan antara bidang studi yang sama di kelas yang berbeda.
  • Kurikulum Berhubungan (Correlated Curriculum) yaitu kurikulum yang menunjukan adanya hubungan antara mata pelajarah yang satu dengan yan lain. Seperti IPS (gabungan dari mata pelajaran Sejarah Geografi, Ekonomi, Sosiologi ), IPA (gabungan dari Fisika, Biologi, Kimia).
  • Kurikulum terpadu (Integrated Curriculum) yaitu kurikulum yang meniadakan batas – batas antara berbagai bidang dan didalam mata pelajaran tersebut terdapat keterpaduan mata pelajaran serta menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk unik.[2]

Pengertian lain dari manajemen kurikulum adalah sebuah proses atau sistem pengelolaan kurikulum secara kooperatif, komprehensif, sistemik, dan sistematik untuk mengacu ketercapaian tujuan kurikulum yang sudah dirumuskan.[3] Dalam proses manajemen kurikulum tidak lepas dari kerjasama sosial antara dua orang atau lebih secara formal dengan bantuan sumber daya yang mendukungnya. Pelaksanaanya dilakukan dengan metode kerja tertentu yang efektif dan efisien dari segi tenaga dan biaya, serta mengacu pada tujuan kurikulum yang sudah ditentukan sebelumnya.[4]

Dalam pelaksanaanya, pengembangan kurikulum harus berdasarkan dan disesuaikan dengan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).[5] Dengan pengertian, bahwa manajemen kurikulum itu memang atas dasar konteks desentralisasi pendidikan dan otonomi daerah. Suatu intitusi pendidikan diberi kebebasan untuk menentukan kebijakan dalam merancang dan mengelola kurikulum menurut kebutuhan peserta didik dan masyarakat. Pemerintah hanya menetapkan standar nasional dan untuk pengembanganya diserahkan sepenuhnya kepada lembaga sekolah dan madrasah terkait.

E. Mulyasa mengatakan bahwa desentralisasi pendidikan dan otonomi daerah diberlakukan  untuk memberikan keluasan pada sekolah dan perlibatan masyarakat untuk mengelola sumber daya, sumber dana, sumber belajar dan mengalokasikanya sesuai prioritas kebutuhan dengan seefisien mungkin untuk mencapai hasil yang optimal. Tidak hanya itu dengan pemberdayaan sekolah lewat pemberian otonomi adalah bentuk tanggap dari pemerintah terhadap tuntutan masyarakat dan pemerataan pendidikan.[6]

  1. TUJUAN MANAJEMEN KURIKULUM

Komponen tujuan berhubunagn dengan arah atau hasil yang ingin dicapai. Dalam skala makro, rumusan tujuan kurikulum erat kaitannya dengan filsafat atau sistem nilai yang dianut masyarakat. Bahkan, rumusan tujuan menggambarkan suatu yang dicita-citakan masyarakat. Misalkan filsafat atau sistem nilai yang dianut masyarakat Indonesia adalah Pancasila, maka tujuan yang diharapkan tercapai oleh suatu kurikulum adalah membentuk masyarakat yang pancasilais. Dalam skala mikro, tujuan kurikulum berhubungan dengan visi dan misi sekolah serta tujuan-tujuan yang lebih sempit seperti tujuan setiap mata pelajaran dan tujuan proses pembelajaran.[7]

Manajemen kurikulum bertujuan untuk:

  1. Pencapaian pengajaran dengan menitik beratkan pada peningkatan kualitas interaksi belajar mengajar.
  2. Mengembangkan sumber daya manusia dengaan mengacu pada pendayagunaan seoptimal mungkin.
  3. Pencapaian visi dan misi pendidikan nasional.
  4. Meningkatkan kualitas belajar mengajar disuatu pendidikan tertentu.[8]

Tujuan lain dari manajemen kurikulum adalah

  • Untuk mengelola perancangan (Desain) kurikulum pembelajaran
  • Untuk mengelola implementasi kurikulum pembelajaran
  • Untuk mengelola pelaksanaan evaluasi kurikulum/pembelajaran
  • Untuk mengelola perumusan penetapan kriteria dan pelaksanaan kurikulum kelas/ kelulusan
  • Untuk mengelola pengembangan bahan ajar, media dan sumber belajar
  • Untuk mengelola pengembangan ekstrakurikuler dan ko-kurikuler
  • Untuk mengelola penerapan uji coba atau merintis pembelajaran yang dicenangkan pemerintah pusat.[9]
  1. RUANG LINGKUP MANAJEMEN KURIKULUM

Manajemen kurikulum adalah bagian dari studi kurikulum. Para ahli pendidikan pada umumnya telah mengenal bahwa kurikulum suatu cabang dari disiplin ilmu pendidikan yang mempunyai ruang lingkup sagat luas. Studi ini tidak hanya membahas tentang dasar-dasarnya, tetapi juga mempelajari kurikulum secara keseluruhan yang dilaksanakan dalam pendidikan.

Secara sederhana dan lebih mudah dipelajari secara mendalam, maka ruang lingkup manajemen kurikulum adalah sebagai berikut: (1) manajemen perencanaan, (2) manajemen pelaksanaan kurikulum, (3) supervisi pelaksanaan kurikulum, (4) pemantauan dan penilaian kurikulum, (5) perbaikan kurikulum, (6) desentralisasi dan sentralisasi pengembangan kurikulum.[10]

  1. Perencanaan

Perencanaan kurikulum di bedakan menjadi dua yakni tingkat pusat dan yang diaksanakan oleh sekolah.

1)      Perencanaan tingkat pusat, meliputi tujuan pendidikan, bahan pelajaran. Dalam tujuan pendidikan terdapat TIU dan TIK.

2)      Bahan pembelajaran,dari pusat kemudian di serahkan kepada sekolah dalam bentuk Garis-Garis Besar Program Pengajaran ( GBPP). Perencanaan yang harus dilakukan disekolah

  1. 2.      Pelaksanaan

Pelaksanaan kurikulum merupakan interaksi belajar mengajar yang setidaknya melalui tiga tahap yaitu :

  1. Tahap persiapan pembelajaran, adalah kegiatan yang dialakukan guru sebelum melakukan proses pembelajaran.
  2. Tahap pelaksanaan pembelajaran, adalah kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleg guru dan murid mengenai pokok bahasan yang harus di sampaikan. Dalam tahap ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu pendahuluan, pelajaran inti, dan evaluasi.
  3. Tahap penutupan, adalah kegiatan yang dilakukan setelah penyampaian materi.
  4. 3.      Evaluasi

Evaluasi merupakan bagian dari sistem manajemen yaitu perencanaan, organisasi, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Kurikulum juga dirancang dari tahap perencanaan, organisasi kemudian pelaksanaan dan akhirnya monitoring dan evaluasi. Tanpa evaluasi, maka tidak akan mengetahui bagaimana kondisi kurikulum tersebut dalam rancangan, pelaksanaan serta hasilnya.[11]

Dari keterangan ini tampak sangat jelas bahwa ruang lingkup manajemen kurikulum itu adalah prinsip dari proses manajemen itu sendiri. Hal ini dikarenakan dalam proses pelaksanaan kurikulum punya titik kesamaan dalam prinsip proses manajemen. Sehingga para ahli dalam pelaksanaan kurikulum mengadakan pendekatan dengan ilmu manajemen. Bahkan kalau dilihat dari cakupanya yang begitu luas, manajemen kurikulum merupakan salah satu disiplin ilmu yang bercabang pada kurikulum.

Dalam sebuah kurikulum terdiri dari beberapa unsur komponen yang terangkai pada suatu sistem. Sistem kurikulum bergerak dalam siklus yang secara bertahab, bergilir, dan berkesinambungan. Oleh sebab itu, sebagai akibat dari yang dianutnya, maka manajemen kurikulum juga harus memakai pendekatan sistem.  Sistem kurikulum adalah suatu kesatuan yang di dalamnya memuat beberapa unsur yang saling berhubungan dan bergantung dalam mengemban tugas untuk mencapai suatu tujuan.

  1. FUNGSI MANAJEMEN KURIKULUM

Dalam proses pendidikan perlu dilaksanakan  manajemen kurikulum untuk memberikan hasil kurikulum yang lebih efektif, efesien dan optimal dalam memberdayakan berbagai sumber maupun komponen kurikulum. Ada beberapa fungsi dari manajemen kurikulum di antaranya :

  1. Meningkatkan efesiensi pemanfaatan sumber daya kurikulum, pemberdayaan sumber maupun komponen kurikulum dapat ditingkatkan melalui pengelolaan yang terencana dan efektif.
  2. Menigkatkan keadilan (equity) dan kesempata pada siswa untuk mencapai hasil yang maksimal, kemampuan yang maksimal dapat dicapai peserta didik tidak hanya melalui kegiatan intrakulikuler, tetapi juga perlu melalui kegiatan ekstra dan kulikuler yang dikelola secara integritas dalam mencapai tujuan kurikulum.
  3. Meningkatkan relevansi dan efektivitas pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan sekitar peserta didik, kurikulum yang dikelola secara efektif dapat memberikan kesempatan dan hasil yang relevan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan sekitar.
  4. Meningkatkan efesiensi dan efektivitas proses belajar mengajar, proses pembelajaran selalu dipantau dalam rangka melihat konsistensi antara desain yang telah direncanakan dengan pelaksanaan pembelajaran. Dengan demikian ketidaksesuaian antara desain dengan implementasi dapat dihindarkan. Disamping itu, guru maupun siswa selalu termotivasi untuk melaksanakan pembelajaran yang efektif dan efesien, karena adanya dukungan kondisi positif  yang diciptakan dalam kegiatan pengelolaan kurikulum.
  5. Meningkatkan partisipasi masyarakat untuk membantu mengembangkan kurikulum, kurikulum yang dikelola secara profesional akan melibatkan masyarakat khususnya dalam mengisi bahan ajar atau sumber belajar perlu disesuaikan dengan ciri khas dan kebutuhan pembangunan daerah setempat.[12]
  1. PRINSIP MANAJEMEN KURIKULUM

Prinsip yang harus diperhatikan dalam melaksanakan manajemen kurikulum adalah sebagai berikut:

  1. Produktivitas, hasil yang akan diperoleh dalam pelaksanaan kurikulum harus sangat diperhatikan. Output (peserta didik) harus menjadi pertimbangan agar sesuai dengan rumusan tujuan manajemen kurikulum.
  2. Demokratisasi, proses manajemen kurikulum harus berdasarkan asas demokrasi yang menempatkan pengelola, pelaksana dan subjek didik pada posisi yang seharusnya agar dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya dan penuh tanggung jawab untuk mencapai tujuan kurikulum.
  3. Kooperatif, agar tujuan dari pelaksanaan kurikulum dapat tercapai dengan maksimal, maka perlu adanya kerjasama yang positif dari berbagai pihak yang terkait.
  4. Efiktivitas dan efisiensi, rangkaian kegiatan kurikulum harus dapat mencapai tujuan dengan pertimbangan efektif dan efisien, agar kegiatan manajemen kurikulum dapat memberikan manfaat dengan meminimalkan sumber daya tenaga, biaya, dan waktu.
  5. Mengarahkan pada pencapaian visi, misi, dan tujuan yang sudah ditetapkan. Proses manajemen kurikulum harus dapat memperkuat dan mengarahkan visi, misi, dan tujuan kurikulum. Dalam proses pendidikan perlu dilaksanakan manajemen kurikulum untuk memberikan hasil kurikulum yang lebih efektif, efisien, dan optimal dalam memberdayakan berbagai sumber daya maupun komponen kurikulum.[13]
a.  Menetapkan Visi Rumusan visi merupakan penjabaran visi institusi (universitas) ke fakultas, jurusan/bagian/program studi. Perumusan visi didasarkan atas pertimbangan societal needs, professional needs, dan academic needs
b. Menuliskan Misi Mendeskripsikan tentang apa yang hendak dicapai dan untuk siapa
c.  Profil lulusan Deskripsi singkat tentang peran yang dapat dilakukan seorang lulusan, dan bukan gambaran singkat tentang data lulusan
d. Analisis tugas Menjabarkan nomor c dengan membuat indikatornya (dokter, pendidik, hukum, ekonom, dan sebagainya)
e. Perumusan kompetensi Lulusan seperti apa yang akan dibentuk melalui program pendidikan ini
f.Kajian elemen kompetensi
  • Bahan kajian tentang disiplin ilmu secara komprehensip dan sistemik untuk membentuk sebuah kompetensi.
  • Untuk membentuk sebuah kompetensi diperlukan beberapa bahan kajian.
  • Bahan kajian nantinya akan diturunkan menjadi mata kuliah
g.Menetapkan elemen kompetensi Elemen kompetensi meliputi: landasan kepribadian, penguasaan ilmu dan keterampilan, kemampuan berkarya, sikap perilaku dalam berkarya, dan pemahaman kaidah berkehidupan bermasyarakat.
h. Identifikasi nama mata kuliah Penamaan mata kuliah berdasarkan rumpun topik kajian dari kolom ( f )
i. Identifikasi pengalaman belajar Perekayasaan kegiatan belajar agar mahasiswa dapat melakukan sendiri sehingga kompetensi dapat tercapai/terbentuk
j. Sumber-sumber belajar Menunjukkan berbagai sumber belajar yang dapat diakses guna mendukung baik langsung maupun tidak langsung dalam proses pembelajaran (paper, person maupun place)
k. Penentuan bobot SKS Disesuaikan dengan urgensi dan status materi
l. Alokasi waktu Ditetapkan berdasarkan pengalaman belajar, luas bahan, tingkat kesulitan, dsb.

(http://sumberbelajarangga.wordpress.com/2012/12/10/makalah-manajemen-kurikulum-dan-pembelajaran/)

  1. KOMPONEN-KOMPONEN KURIKULUM

Kurikulum merupakan suatu sistem yang memiliki komponen-komponen tertentu. Komponen-komponen tersebut ialah :

  1. Komponen Tujuan

Komponen tujuan berhubungan dengan arah atau hasil yang ingin diharapkan. Dalam skala makro rumusan tujuan kurikulum erat kaitannya dengan filsafat atau system nilai yang dianut masyarakat. Bahkan, rumusan tujuan menggambarkan suatu masyarakat yang dicita-citakan. Misalkan, filsafat atau sistem nilai yang dianut masyarakat Indonesia ialah pancasila, maka tujuan yang diharapkan tercapai oleh suatu kurikulum adalah membentuk masyarakat yang pancasilais. Dalam skala mikro, tujuan kurikulum berhubungan dengan visi dan misi sekolah serta tujuan-tujuan yang lebih sempit seperti tujuan setiap mata pelajaran dan tujuan proses pembelajaran. Tujuan pendidikan mempunyai klasifikasi, dari tujuan yang sangat umum sampai tujuan yang sangat khusus yang bersifat spesifik dan dapat diukur yang kemudian dinamakan kompetensi. Tujuan pendidikan diklasifikasikan menjadi empat:

  1. Tujuan Pendidikan Nasional (TPN)

Tujuan Pendidikan Nasional (TPN) adalah tujuan yang besifat paling umum dan merupakan sasaran yang harus dijadikan pedoman oleh setiap usaha pendidikan , artinya setiap lembaga dan penyelenggara pendidikan harus dapat membentuk manusia sesuai rumusan itu, baik pendidikan yang diselenggara oleh lembaga pendidikan formal, informal, maupun non formal. Tujuan pendidikan umum biasanya dirumuskan dalam bentuk perilaku yang ideal sesuai dengan pandangan hidup dari filsafat suatu bangsa yang dirumuskan oleh pemerintah dalam bentuk undang-undang. TPN merupakan sumber dan pedoman dalam usaha penyelenggaraan pendidikan. Secara jelas Tujuan Pendidikan Nasional yang bersumber dari sistem nilai pancasila dirumuskan dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003, pasal 3, bahwa pendidikan nasional yang befungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan bertanggung jawab.

  1. Tujuan Instusional (TI)

Tujuan Instusional adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap lembaga pendidikan. Dengan kata lain tujuan ini dapat didefinisikan sebagai kulifikasi yang harus dimiliki oleh setiap siswa setelah mereka menempuh pendidikan di suatu lembaga tertentu. Tujuan Instusional merupakan tujuan antara untuk mencapai tujuan yang dirumuskan dalam bentuk kompetensi lulusan oleh jenjang pendidikan seperti misalnya standar kompetensi pendidikan dasar, menengah, kejuruan dan jenjang pendidikan tinggi.

  1. Tujuan Kurikuler (TK)

Tujuan Kurikuler adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang studi. Oleh sebab itu tujuan kurikuler dapat didefinisikan sebagai kualifikasi yang harus dimiliki anak didik setelah mereka menyelesaikan suatu bidang studi tertentu dalam suatu lembaga pendidikan. Tujuan kurikuler juga pada dasarnya merupakan tujuan antara untuk mencapai tujuan lembaga pendidikan. Dengan demikian setiap tujuan kurikuler harus mendukung dan diarahkan untuk mencapai tujuan instusional. Contoh tujuan kurikuler adalah tujuan bidang studi matematika di SD, tujuan pembelajaran IPS di SLTP dan lain sebagainya. Dalam kurikulum yang berpotensi pada pencapaian kompetensi, tujuan kurikuler menggambarkan standar isi setiap mata pelajaran yang harus dikuasi oleh peserta didik pada setiap satuan pendidikan. Dalam klasifikasi tujuan pendidikan, tujuan instruksional atau sekarang lebih popular dengan tujuan pembelajaran, merupakan tujuan yang paling khusus.

  1. Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran merupakan bagian dari tujuan kurikuler, dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang harus dimiliki oleh anak didik setelah mereka mempelajari bahasan tertentu dalam bidang studi tertentu dalam sekaqli pertemuan. Karena hanya guru yang memahami karakteristik siswa yang akanmelakukan pembelajaran disuatu lembaga pendidikan, maka menjabarkan tujuan pembelajaran ini adalah tugas guru. Sebelum guru melakukan proses belajar mengajar (PBM), guru perlu merumuskan tujuan pembelajaran yang harus dikuasasi oleh anak didik setelah mereka selesai mengikuti pelajaran. Menurut Bloom, dalam bukunya Taxonomy of Educational Objectives yang terbit tahun 1965, bentuk perilaku sebagai tujuan yang harus dirumuskan dapat digolongkan kedalam tiga klasifikasi atau tiga domain (bagian), yaitu domain kognitif, afektif, dan psikomotor.

  1. Komponen Isi/ Materi Pembelajaran

Pada komponen isi kurikulum lebih banyak menitikberatkan pada pengalaman belajar yang harus dimiliki oleh anak didik dalam kegiatan proses pembelajaran. Isi kurikulum hendaknya memuat semua aspek yang berhubungan dengan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang terdapat pada isi setiap mata pelajaran yang disampaikan dalam kegiatan proses pembelajaran. Isi kurikulum dan kegiatan pembelajaran diarahkan untuk mencapai tujuan dari semua aspek tersebut.

  1. Komponen Metode

Komponen metode ini berkaitan dengan strategi yang harus dilakukan dalam rangka pencapaian tujuan. Metode yang tepat adalah metode yang sesuai dengan materi dan tujuan kurikulum yang akan dicapai dalam setiap pokok bahasan.  Dalam posisi ini guru hendaknya tidak menerapkan satu metode saja, tapi guru dapat menerapkan berbagai macam metode agar PBM berlansung dengan menyenangkan dan mencapai sasaran yang direncanakan. Dengan demikian rencana ytang sudah disusun dapat diterapkan secara optimal.

  1. Komponen Evaluasi

Pengembangan kurikulum merupakan proses yang tidak pernah berakhir (Oliva,1988). Proses tersebut meliputi perencanaan implementasi, dan evaluasi. Merujuk pada pendapat tersebut maka dalam konteks pengembangan kurikulum, evaluasi merupakan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pengembangan kurikulum irui sendiri. Melalui evaluasi, dapat ditentukan nilai dan arti kurikulum, sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan apakah suatu kurikulum dapat dipertahankan atau tidak; bagian-bagian mana yang harus disempurnakan.  Evaluasi merupakan komponen-komponen untuk melihat efektivitas pencapaian tujuan. Dalam konteks kurikulum evaluasi itu dapat berfungsi untuk mengetahui apakah tujuan yang telah ditetapkan sudah tercapai atau belum, atau evaluasi dapat digunakan sebagai umpan balik dalam perbaikan strategi yang ditetapkan. Kedua fungsi tersebut menurut Scriven (1967) adalah evaluasi sebagai fungsi sumatif dan evaluasi sebagai fungsi formatif.

(http://aancools.wordpress.com/2011/07/12/makalah-adm-pendidikan-manajemen-kurikulum/)

  1. PROSES MANAJEMEN KURIKULUM
    1. Manajemen Perencanaan Kurikulum

Perencanaan kurikulum adalah suatu proses sosial yang kompleks dan menuntut berbagai jenis tingkat pembuatan keputusan kebutuhan untuk mendiskusikan dan mengkoordinasikan proses penggunaan model-model aspek penyajian kunci. Sebagaimana pada umumnya rumusan model perencanaan harus berdasarkan asumsi-asumsi rasionalitas dengan pemrosesan secara cermat. Proses ini dilaksanakan dengan pertimbangan sistematik tentang relevansi pengetahuan filosofis (isu-isu pengetahuan yang bermakna), sosiologis (argumen-argumen kecenderungan sosial), dan psikologi (dalam menentukan urutan materi pelajaran).

Perencanaan kurikulum dijadikan sebagai pedoman yang berisi petunjuk tentang jenis dan sumber peserta yang diperlukan, media penyampaian, tindakan yang perlu dilakukan, sumber biaya, tenaga, sarana yang diperlukan, sistem kontrol, dan evaluasi untuk mencapai tujuan organisasi. Dengan perencanaan akan memberikan motivasi pada pelaksanaan sistem pendidikan sehingga dapat mencapai hasil yang optimal.

Kegiatan inti pada perencanaan adalah merumuskan isi kurikulum yang memuat seluruh materi dan kegiatan yang dalam bidang pengajaran, mata pelajaran, masalah-masalah, proyek-proyek yang perlu dikerjakan. Isi kurikulum dapat disusun sebagai berikut:

1)      Bidang-bidang keilmuan yang terdiri atas ilmu-ilmu sosial, administrasi, ekonomi, komunikasi, IPA, matematika, dan lain-lain.

2)      Jenis-jenis mata pelajaran disusun dan dikembangkan bersumber dari bidang-bidang tersebut sesuai dengan tuntutan program.

3)      Tiap mata pelajaran dikembangkan menjadi satuan-satuan bahasan atau standar kopetensi dan kopetensi dasar.

4)      Tiap-tiap mata pelajaran dikembangkan dalam bentuk silabus.

Dari rumusan perencanaan di atas penulis menyimpulkan bahwa kurikulum itu tidak hanya memuat pada rangkaian susunan mata pelajaran, tetapi juga memuat seluruh aspek kegiatan pendidikan dan pendukung-pendukungnya. Hanya saja dalam perumusan lebih banyak difokuskan pada perencanaan pengajaran dengan menyusun materi ajar. Karena materi pelajaran adalah sesuatu yang dianggap sangat urgen dalam kurikulum. Maka dalam perumusanya juga sangat diperlukan adanya landasan yang kokoh untuk sebagai pedoman.[14]

Perencanaan adalah suatu proses mempersiapkan serangkaian keputusan untuk mengambil tindakan dimasa yang akan datang yang diarahkan kepada tercapainya tujuan-tujuan dengan sarana yang optimal. Pedoman-pedoman perencanaan yang merupakan tujuan pendidikan dan susunan bahan pelajaran, pemerintah pusat mengeluarkan pedoman umum yang harus diikuti oleh sekolah untuk menyusun perencanaan yang bersifat operasional disekolah, pedoman tersebut antara lain :

1)        Struktur Program

Struktur program adalah susunan bidang pengajaran yang harus dijadikan pedoman pelaksanaan kurikulum di suatu jenis dan jenjang sekolah. Struktur program merupakan landasan untuk membuat jadwal pelajaran.

  1. Jenis-jenis program pendidikan
  2. Bidang studi untuk masing-masing jenis program
  3. Satuan waktu pelaksanaan (di SD semester di SMP semester an)
  4. Alokasi waktu untuk tiap bidang studi tiap satuan waktu pelaksanaan
  5. Jumlah jam pelajaran per minggu

Berdasarkan struktur program ini sekolah-sekolah dapat menyusun jadwal pelaksanaan pelajaran disesuaikan dengan kondisi sekolah asal tidak menyimpang dari ketentuan yang ada.

2)        Penyusunan Jadwal Pelajaran

Jadwal pelajaran adalah urut-urutan mata pelajaran sebagai pedoman yang harus di ikuti dalam pelaksanaan pemberian pelajaran. Jadwal pelajaran sangat bermanfaat dalam pembelajaran yang dilakukan oleh setiap institusi pendidikan terutama sebagai pedoman bagi guru, siswa, maupun kepala sekolah.
Manfaat bagi guru :

ü  Sebelum mulai bekerja sudah ada pedoman sehingga guru dapat “siap mental” dan “siap materi” sebelum mengajar.

ü  Ada koordinasi kerja antara guru sehingga masing-masing guru tahu hak dan kewajiban di kelas dan harus berada di suatu kelas.

ü  Guru tahu kapan tidak bertugas sehingga dapat merencanakan kegiatan yang lain.

Manfaat bagi siswa :

v  Siswa tahu dengan pasti waktu-waktu memperoleh sesuatu pelajaran sehingga dapat menyiapkan diri.

v  Siswa tahu akan hal dan kewajiban untuk diajar oleh siapa dan harus bagaimana.

Manfaat bagi kepala sekolah :

Memudahkan pengawasan dan koordinasi yang lain.

Dapat diketahui beban seorang guru secara jelas.

Inti kegiatan pendidkan di sekolah adalah pelaksanaan belajar mengajar di kelas. Dengan demikian maka penjadwalan merupakan hal yang sangat penting. Jadwal ini disusun bukan hanya untuk sesuatu kelas tetapi untuk seluruh kelas. Beberapa yang harus diingat dalam penyusunan jadwal adalah:

  1. Jam-jam pelajaran pagi hari diperuntukkan bahan yang “berat” yang harus banyak meminta tenaga dan pikiran dari anak.
  2. Pelajaran yang membutuhkan tenaga jasmani diletakkan pada pagi hari agar tidak terlalu banyak keringat yang keluar. Untuk pelajaran olahraga perlu sinar matahari pagi.
  3. Siang hari dapat diperuntukkan bagi pelajaran-pelajaran yang sifatnya agak santai, dan tidak banyak meminta pikiran misalnya kesenian, menggambar, dan sebagainya.
  4. Usahakan agar ada selingan antara pelajaran yang berat dengan yang ringan. Paling banyak untuk sesuatu jenis pelajaran hanya 3 jam pelajaran, tetapi jangan kurang dari 2 (jam kalau mungkin).
  5. Agar antara kelas yang berdekatan tidak saling mengganggu maka penyusunan jadwal pelajaran harus mengingat letak kelas.
  6. Dalam menyusun jadwal harus mengingat jumlah jam per minggu untuk suatu tingkat atau kelas, beban tugas guru per minggu dan ketentuan banyaknya jam pelajaran dalam sehari, dan lamanya waktu istirahat di sela-sela pelajaran.

3)        Penyusunan Kalender Pendidikan

Menyusun rencana kerja sekolah untuk kegiatan selama satu tahun merupakan bagian manajemen kurikulum terpenting yang harus sudah tersusun sebelum ajaran baru. Dahulu rencana tahun ini disebut dengan istilah “rencana tahunan” karena memang isinya adalah rencana kegiatan yang akan dilaksanakan selama satu tahun. Oleh karena jangka waktu pelaksanaannya dalam kurun waktu satu tahun ajaran maka disebut juga “kalender akademik” atau “kalender pendidikan”. Nama resmi lain adalah “kalender sekolah” seperti tertuang dalam lampiran keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan tanggal 15 Oktober 1975 No. 0255/U/1976.
Tujuan penyusunan kalender pendidikan adalah agar penggunaan waktu selama satu tahun terbagi secara merata dan sebaik-baiknya dari peningkatan mutu pendidikan. Adanya pedoman dari pusat dimaksudkan agar ada keseragaman untuk seluruh sekolah di Indonesia. Hal-hal yang diatur adalah:

  1. Penerimaan siswa baru dan persiapan tahun ajaran baru.
  2. Prosedur pengisisan hari pertama di sekolah.
  3. Kegiatan belajar mengajar yang meliputi:
  • Persiapan mengajar
  • Penyajian pelajaran
  • Evaluasi belajar
  • Kenaikan kelas
  • Tamatan belajar
  • Bimbingan siswa
  1. Kegiatan dalam liburan sekolah.
  2. Upacara-upacara sekolah.
  3. Kegiatan ekstrakurikuler.

Untuk menyusun jenis dan urutan kegiatan harus diperhatikan :

  1. Setiap kegiatan mempunyai fungsi meningkatkan mutu, efektivitas dan efisiensi pendidikan.
  2. Setiap kegiatan mempunyai kaitan fungsional dengan kegiatan lainnya yang relevan.
  3. Dalam fungsinya untuk meningkatkan mutu pendidikan kegiatan kurikuler dan kegiatan ekstrakurikuler merupakan suatu kegiatan yang integratif.
  4. Penjadwalan kegiatan ekstrakurikuler menjamin kelancaran dan efektivitas pelaksanaan kegiatan kurikuler.

4)        Pembagian Tugas Guru

Prinsip manajemen yang sering dikehendaki dilaksanakan di Indonesia adalah “bottom up policy” bukan “top down policy” yaitu menampung pendapat bawahan sebelum pimpinan memutuskan suatu kebijaksanaan, atau keputusan didasarkan atas musyawarah bersama. Oleh karena itu, maka dalam mengadakan pembagian tugas guru, kepala sekolah tidak boleh “main perintah dan main tunjuk” tetapi dibicarakan dalam rapat meja guru sebelum tahun ajaran dimulai.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian tugas kepada guru :

  1. Sesuai bidang keahlian guru.
  2. Sistem guru kelas dan sistem guru bidang studi. Di sekolah dasar masih digunakan sistem guru kelas, melihat peralihan lingkungan anak kecil ke sekolah. Ada dua sistem sehubungan dengan guru kelas, yaitu:
    1. Sistem mengsak, jika guru mengikuti siswa-siswanya naik kelas.
    2. Sistem bertukar, jika guru memegang sesuatu tingkat terus-menerus.
    3. Formasi, yaitu susunan jatah petugas sesuai dengan banyaknya dan jenis tugas yang dipikul.
    4. Beban tugas guru menurut ketentuan 24 jam per minggu.
    5. Terdapat kemungkinan adanya perangkapan tugas mengajar jika jumlah guru kurang.
    6. Masa kerja dan pengalaman mengajar dalam bidang studi yang diampu.

5)        Pengaturan atau Penempatan Siswa

Pengaturan siswa menurut kelasnya sebaiknya sudah dilakukan bersama waktu dengan pendaftaran ulang siswa tersebut. Hal ini akan mempermudah siswa baru pada peristiwa hari pertama masuk ke sekolah. Oleh karena keadaan kemampuan siswa belum dikenal, maka yang dipakai untuk pertimbangan penempatan ke kelas-kelas antara lain: jenis kelamin, asal sekolah dan (jika mungkin) latar belakang orangtua atau wali.

Pengaturan siswa di kelas dilakukan oleh guru kelas (di SD) atau guru wali kelas pada hari pertama masuk sekolah. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan pada hari pertama sekolah adalah: mengatur tempat duduk, perkenalan dengan kawan sekelas dan wali kelas, penjelasan tentang tata tertib sekolah, (ruang-ruang penting, tata usaha, kantor kepala sekolah, dan sebagainya). Untuk mempermudah komunikasi sebaiknya setiap ruang diberi tata pengenal berupa nomor atau abjad. Baik sekali jika ada denah sekolah agar jika ada tamu dari luar tidak harus mencari-cari tempat yang dituju.

6)        Penyusunan Rencana Mengajar

Langkah pertama yang harus dilakukan oleh guru setelah menerima tugas untuk tahun ajaran yang akan datang adalah mempersiapkan segala sesuatu agar apabila sudah sampai saat melaksanakan mengajar tinggal memusatkan perhatian pada lingkup yang khusus yaitu interaksi belajar mengajar. Penyusunan rencana mengajar dilakukan melalui dua tahap:

  1. Tahap penyusunan rencana terurai

Yang dimaksud penyusunan rencana terurai adalah pembuatan program garis besar tetapi terperinci mengenai penyajian bahan pelajaran selama satu tahun. Istilah “rencana terurai” ini sebenarnya istilah lama yang hampir-hampir tidak terdengar lagi tertutup oleh hangatnya kegiatan penyusunan satuan pelajaran dengan PPSI.
Penyusunan program pelajaran ini masih tetap penting artinya walaupun di dalam silabi sudah disebutkan banyaknya alokasi waktu yang disediakan untuk tiap-tiap pokok bahasan. Kadang-kadang apa yang tertulis pada silabi tidak dapat dilaksanakan seperti itu disebabkan karena adanya hari-hari llibur pada saat jatah mengajar, atau sebab-sebab lain. Untuk itu, maka sebelum guru mulai menyusun satuan pelajaran terlebih dahulu harus menyusun program secara cermat melalui langkah-langkah berikut ini:

  1. Menghitung banyaknya pokok bahasan yang terdapat selama penggalan waktu tertentu, misalnya satu semester (untuk SD semester).
  2. Menghitung banyaknya sub pokok bahasan kemudian dijumlahkan untuk satu semester.
  3. Menghitung banyaknya hari efektif selama satu semester dengan melihat kalender sekolah dan kalender tahunan agar dapat diketahui betul-betul hari-hari yang dapat digunakan untuk melaksanakan tugas mengajar.
  4. Memasangkan banyak sub-pokok bahasan dengan alokasi waktu yang disediakan selama satu semester.

Jika jadwal pelajaran sudah tersusun, ada baiknya dibuat catatan mengenai urutan penyajian sekaligus dituliskan hari dan tanggal mengajarnya.

  1. Tahap penyusunan satuan pelajaran

Dalam kurikulum 1975 disebutkan bahwa sebelum mengajar guru harus membuat rencana mengajar dalam bentuk satuan pelajaran (yang sering disebut satpel). Penyusunan satpel sebaiknya dilakukan sekaligus selesai sebelum mengajar. Namun, jika tidak mungkin dilakukan secara bertahap jika sudah memadai.
Secara garis besar satuan pelajaran berisi komponen-komponen yang berhubungan dengan:

  • Identitas materi pelajaran
  • Waktu pelaksanaan
  • Bagaimana dilaksanakan

Keterangan:

  • Identitas materi pelajaran berisi: pokok bahasan, sub pokok bahasan, tujuan instruksional umum, tujuan instruksional khusus, dan kelas.
  • Waktu pelaksanaan berisi: waktu pelaksanaan, alokasi waktu.
  • Bagaimana dilaksanakan berisi: metode mengajar, alat-alat pelajaran yang diperlukan, buku sumber yang diambil, alat evaluasi. Kegiatan belajar mengajar yang dipilih.

Dengan komponen-komponen yang disebutkan selanjutnya disajikan untuk satuan pelajaran sebagai berikut:

  1. Judul/pokok bahasan
  2. Sub pokok bahasan
  3. Kelas
  4. Alokasi waktu
  5. Tujuan instruksional Umum (TIU)
  6. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
  7. Materi pelajaran
  8. Pendekatan
  9. Metode mengajar
  10. Kegiatan belajar mengajar
  11. Media/alat pelajaran
  12. Sumber bahan

Catatan: Alat evaluasi menurut urutan sebaikanya dituliskan sesudah TIK, tetapi hanya disebutkan jenis evaluasinya. Soal-soal evaluasi dituliskan dalam buku terpisah, dapat dijadikan arsip soal.

(http://alchemistviolet.blogspot.com/2011/01/manajemen-kurikulum.html)

  1. MANAJEMEN PENGORGANISASIAN DAN PELAKSANAAN KURIKULUM

Manajemen pengorganisasian dan pelaksanaan kurikulum adalah berkenaan dengan semua tindakan yang berhubungan dengan perincian dan pembagian semua tugas yang memungkinkan terlaksana. Dalam manajemen pelaksanaan kurikulum bertujuan supaya kurikulum dapat terlaksana dengan baik. Dalam hal ini manajemen bertugas menyediakan fasilitas material, personal dan kondisi-kondisi supaya kurikulm dapat terlaksana.

Pelaksanaan kurikulum dibagi menjadi dua:

  1. Pelaksanaan kurikulum tingkat sekolah, yang dalam hal ini langsung ditangani oleh kepala sekolah. Selain dia bertanggung jawab supaya kurikulum dapat terlaksana di sekolah, dia juga berkewajiban melakukan kegiatan-kegiatan yakni menyusun kalender akademik yang akan berlangsung disekolah dalam satu tahun, menyusun jadwal pelajaran dalam satu minggu, pengaturan tugas dan kewajiban guru, dan lain-lain yang berkaitan tentang usaha untuk pencapaian tujuan kurikulum.[15]
  2. Pelaksanaan kurikulum tingkat kelas, yang dalam hal ini dibagi dan ditugaskan langsung kepada para guru. Pembagian tugas ini meliputi; (1) kegiatan dalam bidang proses belajar mengajar, (2) pembinaan kegiatan ekstrakulikuler yang berada diluar ketentuan kurikulum sebagai penunjang tujuan sekolah, (3) kegiatan bimbingan belajar yang bertujuan untuk mengembangkan potensi yang berada dalam diri siswa dan membantu siswa dalam memecahkan masalah.

Sebagai salah satu batasan pengertian, yang dimaksud dengan pelaksanaan kurikulum adalah pelakasanaan mengajar di kelas yang berkali-kali telah disebut merupakan inti dari kegiatan pendidikan di sekolah. Dalam pelaksanaan pengajaran di kelas, guru menyempatkan perhatian hanya pada interaksi proses belajar mengajar. Namun demikian, fisik, ruangan dan aktivitas kelas tidak luput dari perhatiannya, justru sudah dimulai semenjak memasuki ruangan belajar. Oleh karena itu, secara manajemen, selama guru berada dalam kelas terbagi menjadi 3 tahap, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan pelajaran dan tahap penutupan.

  1. Persiapan

Yang dimaksud dengan tahap persiapan adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru sebelum memulai mengajar, yang dikerjakan antara lain:

  • Mengucapkan “Selamat pagi” dan meletakkan alat-alat mengajar di meja.
  • Memperhatikan kondisi di sekeliling kelas, apakah ada kondisi yang mengganggu proses belajar mengajar, seperti papan tulis yang belum dibersihkan, terdapat gambar miring, kapur tulis berantakan dan sebagainya.
  • Melakukan absensi.
  • Memerikasa apakah siswa sudah siap dengan catatan dan sudah tidak ada lagi barang-barang atau buku lain yang dipegang siswa.
  1. Pelaksanaan Pelajaran

Yang dimaksud dengan pelaksanaan pelajaran adalah kegiatan mengajar sesungguhnya yang dilakukan oleh guru dan sudah ada interaksi langsung dengan siswa mengenai pokok bahasan yang diajarkan. Pelaksanaan pelajaran terbagi menjadi 3 tahapan kegiatan, yaitu:

  1. Pendahuluan
    Yaitu mulai mengajar dengan mengarahkan perhatian untuk masuk ke pokok bahasan, misalnya dengan memberikan apersepsi atau mengajukan pertanyaan yang harus dijawab siswa atau menyuruh siswa untuk bercerita tentang bahan yang akan diterangkan, dan lain sebagainya.
  2. Pelajaran inti

Adalah interaksi belajar mengajar yang terjadi selama guru-siswa membahas pokok bahasan yang menjadi acara pada jam itu.

  1. Evaluasi
    Adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru setelah selesai pembahasan pelajaran inti. Penutupan ini dapat dilakukan dengan membuat ringkasan, mengajukan pertanyaan, memberikan evaluasi formatif, memberikan tugas rumah, dan sebagainya.
  1. Penutupan

Yang dimaksud penutupan adalah kegiatan yang terjadi di kelas setelah guru selesai melaksanakan tugas mengajarkan materi yang menjadi tanggung jawabnya untuk pertemuan itu. Penutupan pelajaran dengan menghapus papan tulis, pesan dan kesan ucapan “Selamat pulang”, dan sebagainya.
Kegiatan manajemen kurikulum yang dilaksanakan oleh guru pada waktu pelaksanaan pelajaran ada 2, yaitu:

  1. Pengisian buku kemajuan siswa

Buku kemajuan kelas atau sering juga disebut buku kelas adalah buku yang digunakan untuk mencatat kemajuan (progress) pelaksanaan pelajaran. Buku ini biasa diletakkan di meja guru dan diisi oleh guru atau siapa yang ditunjuk tentang hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan pelajaran. Kolom-kolom yang biasa disiapkan adalah sebagai berikut:

v  Hari/ Tanggal

v  Jam Ke

v  Kode Guru

v  Mata Pelajaran

v  Isi Pelajaran

v  Jumlah Siswa

v  Paraf Guru

Adakalanya sebelum kolom jumlah siswa ditambah kolom lain, yitu kolom keterangan untuk memberikan wadah apabila misalnya pelajaran yang direncanakan tidak dapat selesai atau tidak terlaksana karena suatu sebab.

  1. Pengisian buku bimbingan belajar

Buku bimbingan belajar ini diisi oleh guru pada waktu sedang mengajar. Yang dicatat adalah hal-hal mengenai kesulitan perseorangan atau kelompok maupun klasikal, serta pemecahan yang telah dicobakan. Catatan ini penting sekali untuk memperbaiki cara mengajar untuk masa yang akan datang apalagi untuk kasus yang serupa.

(http://alchemistviolet.blogspot.com/2011/01/manajemen-kurikulum.html)

  1. MANAJEMEN PEMANTAUAN DAN PENILAIAN KURIKULUM

Pemantauan kurikulum adalah pengumpulan informasi berdasarkan data yang tepat, akurat, dan lengkap tentang pelaksanaan kurikulum dalam jangka waktu tertentu oleh pemantau ahli untuk mengatasi permasalahan dalam kurikulum. Pelaksanaan kurikulum di dalam pendidikan harus dipantau untuk meningkatkan efektifitasnya. Pemantauan ini dilakukan supaya kurikulum tidak keluar dari jalur. Oleh sebab itu seorang yang ahli menyusun kurikulum harus memantau pelaksanaan kurikulum mulai dari perencanaan sampai mengevaluasinya.[16]

Secara garis besar pemantauan kurikulum bertujuan untuk mengumpulkan seluruh informasi yang diperlukan untuk pengambilan keputusan dalam memecahkan masalah. Dalam tataran praktis, pemantauan kurikulum memuat beberapa aspek, yaitu sebagai berikut:

  1. Peserta didik, dengan mengidentifikasi pada cara belajar, prestasi belajar, motivasi belajar, keaktifan, kreativitas, hambatan dan kesulitan yang diahadapi.
  2. Tenaga pengajar, dengan memantau pada pelaksanaan tanggung jawab, kemampuan kepribadian, kemampuan kemasyarakatan, kemampuan profesional, dan loyalitas terhadap atasan.
  3. Media pengajaran, dengan melihat pada jenis media yang digunakan, cara penggunaan media, pengadaan media, pemeliharaan dan perawatan media.
  4. Prosedur penilaian: instrument yang dihadapi siswa, pelaksanaan penilaian, pelaporan hasil penilaian.
  5. Jumlah lulusan: kategori, jenjang, jenis kelamin, kelompok usia, dan kualitas kemampuan lulusan.

Dalam bahasan sebelumnya telah disinggung evaluasi yang dilaksanakan guru setelah guru selesai menyampaikan materi pokok, yang disebut dengan evaluasi formatif. Penyelenggaraan evaluasi hasil belajar dalam satu semester terbagi menjadi dua hal, yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Kedua jenis evaluasi ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui keberhasilan guru dalam mengajar, dilihat dari prestasi atau hasil yang telah dikuasai oleh siswa.

  1. Evaluasi formatif

Evaluasi formatif adalah evaluasi atau penilaian yang dilakukan setelah satu pokok bahasan selesai dipelajari oleh siswa. Evaluasi formatif terutama dimaksudkan untuk memberikan umpan balik kepada guru mengenai keberhasilan proses mengajarnya. Dalam hal ini, keberhasilan siswa merupakan petunjuk utama keberhasilan program mengajar yang diselenggarakan oleh guru pemegang bidang studi yang bersangkutan, dan jenis evaluasi ini dikenal sebagai ulangan harian.

Ulangan harian ini dapat dilaksanakan dengan tes tertulis maupun lisan. Sesuai dengan tujuannya yaitu untuk memperoleh umpan balik pelaksanaan program, mestinya nilai tes formatif ini tidak dimaksudkan atau tidak dihitung untuk nilai rapor. Tetapi atas pertimbangan waktu dan manfaat dari segi siswa, hasil tes formatif akhirnya ditentukan untuk perhitungan dalam menentukan nilai akhir untuk rapor.

Penyusunan butir-butir tes formatif harus relevan dengan tujuan instruksional khusus yang telah ditetapkan. Apabila TIK suatu bahan materi adalah untuk dihafalkan oleh siswa, maka aspek yang diukur dengan butir tes juga harus hafalan. Demikian juga untuk aspek-aspek dari TIK.

  1. Evaluasi sumatif

Evaluasi sumatif atau yang dikenal dengan tes sumatif adalah tes yang diselenggarakan oleh guru setelah jangka waktu tertentu. Untuk SD tes sumatif dilakukan pada akhir semester, sedangkan untuk SMP ke atas dilaksanakan pada akhir semester. Dalam pelaksanaannya tes sumatif sering disebut ulangan umumdan biasanya diselenggarakan secara serempak untuk seluruh sekolah.
Butir-butir soal untuk tes sumatif jumlah dan kualitasnya harus lebih dibandingkan dengan butir tes formatif. Sebaiknya tes sumatif bukan hanya gabungan dari soal-soal tes formatif atau memilih beberapa butir soal tes formatif, karena tes sumatif mempunyai tujuan yang berbeda dengan tes formatif. Beberapa butir soal harus dapat mengukur kemampuan siswa dalam kaitannya dengan pengertian-pengertian yang terkandung dalam beberapa pokok bahasan yang terpisah. Lebih jelasnya, tes formatif dimaksudkan untuk mengukur TIK, tetapi tes sumatif dimaksudkan untuk mengukur pencapaian TIU.
(http://alchemistviolet.blogspot.com/2011/01/manajemen-kurikulum.html)

  1. KASUS

Manajemen  kurikulum dan perkembangan diarahkan agar proses pembelajaran sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan. Guru diberikan kewenangan untuk mengembangkan kurikulum agar proses belajar mengajar memiliki makna yang mendalam pada diri siswa dan guru. Kepala sekolah juga bertanggung jawab dalam membimbing dan mengarahkan pengembangan kurikulum and pembelajaran serta melakukan supervisi dalam pelaksanaannya. Kepala sekolah bekerja keras dan bertanggung jawab dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian terhadap perbaikan dan perkembangan kurikulum dan pembelajaran. Untuk ketercapaian program kurikulum dan pembelajaran yang efektif, kepala sekolah bersama guru harus menjabarkan isi kurikulum secara rinci dan operasional kedalam, program tahunan, semester dan bulanan. Sedangkan program mingguan atau satuan pembelajaran, wajib dipahami guru sebelum melakukan proses belajar mengajar. Agar proses belajar megajar berjalan lancar maka langkah  yang harus dilakukan yaitu

  1. Tahap Perencanaan.

Pada tahap ini perlu dijabarkan menjadi rencana pembelajaran. Guru melakukan pesiapan yang komprehensif sebelum melakukan PBM dikelas. Pada tahap ini guru mempersiapkan mulai dari tujuan pembelajaran, buku sumber atau referensi, dan alat evaluasi yang diterapkan. Dalam tahap perencanaan ini pula perlu dipahami hal-hal sebagai berikut : (a) menjabarkan GBPP menjadi Analisis Mata Pelajaran (AMP), (b) memiliki kalender akademik, (c) menyusun program tahunan (PROTA), (d) menyusun program semester, (e) program satuan pelajaran, dan (f) rencana pengajaran. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan pedoman guru dalam melaksanakan PBM, oleh karena itu kepala sekolah perlu memberikan perhatian, pembinaan dan bantuan serta memeriksa pekerjaan guru tersebut. Kepala sekolah melakukan pemeriksaan secara cermat untuk memberikan penilaian dan umpan balik apabila ada yang perlu diperbaiki dan ditambahkan.

2.      Tahap Penorganisasian dan Koordinasi

Pada tahap ini merupakan tahap yang perlu diperhatikan secara sungguh-sungguh oleh kepala sekolah beserta tim yang di bentuk untuk memudahkan pembagian tugas sesuai dengan kegiatan yang akan dilaksanakan. Kepala sekolah berkewajiban untuk mengelola dan mengatur penyusunan kalender akademik, jadwal pelajaran, tugas dan kewajiban guru, serta program kegiatan sekolah. Kepala sekolah berkewajiban mengelola dan mengatur penyusunan kalender akademik, jadwal pelajaran, tugas dan kewajiban guru, serta kegiatan sekolah. Pada tahap ini hal-hal yang perlu diperhatikan oleh kepala sekolah adalah sebagai berikut :

  1. Kalender akademik disusun berdasarkan rencana program kegiatan yang akan berlansung di sekolah selama satu tahun kedepan. Penyusunan kalender akademik memberikan arah yang jelas tentang berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh sekolah selama satu tahun kedepan. Kalender akademik disusun berdasarkan kebutuhan dan hasil pemikiran bersama antara kepala sekolah dan guru akan memberikan kejelasan dalam merealisasikan program kegiatan sekolah. Kalender akademik yang telah disusun ini disosialisasikan kepada seluruh guru, siswa, orang tua siswa dan masyarakat. Dengan mengetahui kalender akademik diharapkan akan terjadi sinergi dalam mewujudkan program kegiatan yang akan dilaksanakan sekolah.
  2. Penyusunan jadwal pelajaran didasarkan kepada kewajiban mengajar guru 5 hari/minggu. Jadwal pelajaran disusun berdasarkan hasil musyawarah bersama, antara kepala sekolah dan guru. Dengan demikian guru akan bertanggung jawab dalam menyampaikan pelajaran kepada siswa. Untuk meningkatkan mutu pembelajaran diharapkan guru mengikuti kegiatan dalam MGMP.
  3. Pengaturan tugas dan kewajiban guru dilandasi oleh kebersamaan, keadilan, dan tidak menimbulkan permasalahan. Pembagian tugas dan kewajiban guru ini disesuaikan dengan bidang bidang keahlian dan minat guru tersebut. Pembagian tugas didasarkan kepada beban tugas minimal dan keahliannya. Dengan demikian pada setiap guru diharapkan akan tumbuh motivasi untuk berprestasi, kebersamaan dalam merealisasikan program sekolah, sinerjik antara pimpinan, guru staf TU, dan orang tua dalam uapaya meningkatkan mutu sekolah.
  4. Program kegiatan sekolah disusun berdasarkan kebutuhan nyata untuk meningkatkan, mengembangkan dan memajukan sekolah. Program kegiatan sekolah disusun berdasarkan visi, misi dan tujuan yang akan diwujudkan dalam kepemimpinan kepala sekolah bersama-sama seluruh kompnen sekolah. Program kegiatan sekolah meliputi program internal sekolah dan program eksternal yang akan dilaksanakan sekolah. Program yang berkaitan dengan penungkatan mutu pembelajaran, pengembangan profesionalisme guru dan staf TU, program penataan kurikulum, program pengelolaan sarana dan prasarana sekolah, program pengelolaan keuangan sekolah, program pengembangan hubungan sekolah dengan masyarakat. Berbagai program kegiatan sekolah 1 tahun samapai dengan 5 tahun kedepan perlu diorganisir dan dikordinasikan secara cermat dan transparan.

3.      Tahap Pelaksanaan.

Pada tahap ini merupakam tahap yang paling menentukan apakah sekolah dibawah kepemimpinan kepala sekolah dapat mewujudkan program sekolah atau tidak. Perencanaann, pengorganisasian dan koordinasi yang telah disusun akan dibuktikan keberhasilannya dalam tahap pelaksaan ini. PBM akan berjalan secara efektif apabila guru dan kepala sekolah memiliki tanggung jawab yang tinggi dalam upaya menigkatkan mutu pembelajaran. Mutu pembelajaran dapat dilaksanakan dengan baik apabila guru dan kepala sekolah bersama-sama membuka diri terhadap masukan atau kritikan yang membangun. Sebagai guru harus siap diberi masukan oleh kepala sekolah berdasarkan hasil supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah. Begitu juga sebaliknya, apabila kepala sekolah tidak melakukan supervisi (tidak berdasarkan fakta dan data) yang diperoleh lansung oleh kepala sekolah, maka masukan yang diberikan kepala sekolah tidak valid dan berpengaruh negatif terhadap kinerja guru. Dengan demikian, kepala sekolah dan guru akan terbuka dalam memberikan masukan atau kesulitan yang dihadapi dengan tujuan untuk kemajuan dan peningkatan mutu pebelajaran.

4.      Tahap Evaluasi dan Pengendalian

Pelakasanaan pembelajaran berjalan secara efektif atau tidak dapat diketahui melalui kegiatan evaluasi. Evaluasi ini sangat penting dilakukan secara benar karena bertujuan untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran yang dilakukan berjalan lancar atau tidak sesuai rencana yang telah ditetapkan. Guru perlu menetapkan jeni evaluasi apa yang digunakan dan hasil evaluasi diharapkan akan memiliki pengaruh dan dampak terhadap  perbaikan dan peningkatan mutu pembelajaran selanjutnya. Dengan dilaksanakannya evaluasi ini akan memberikan dampak dan manfaat bagi guru dan siswa untuk peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan. Disamping itu evaluasi yang dilakukan oleh guru dapat menjadi masukan untuk mengetahui kesulitan yang dihadapi oleh siswa.dari sekian banyak siswa tentunya ada diantara mereka yang menemui kesulitan dalam belajar. Siswa yang mengalami kesulitan belajar dapat dilakukan pemantapan atau perhatian khusus agar tidak ketinggalan dan dapat menyesuaikan diri dengan yang lainnya. Dalam mengatasi kesulitan belajar siswa perlu dicarikan solusinya, misalkan dengan remedial, pemantapan, belajar dengan teman sejawat yang lebih pandai, atau membentuk belajar kelompok yang dibimbing oleh guru. Dengan demikian evaluasi dapat juga menjadi umpan balik bagi guru untuk lebih meningkatkan kualitas mengajarnya. Agar evaluasiyang dilakukan sesuai dengan tujuan yang diharapkan perlu diperhatikan dari mulai pesiapan awal, menyiapkan bahan-bahan evaluasi yang diperlukan, menyusun kisi-kisi evaluasi, menyusun bentuk tes, menyusun butir-butir soal, memvalidasi, menyiapkan jawabannya, membuat jadwal pemeriksaan serta penyerahan hasil evaluasi tepat waktu. Penyusunan soal sebaiknya melibatkan beberapa guru bidang studi sejenis atau bersama MGMP. Kepala sekolah berperan dalam pengendalian system evaluasi agar evaluasi dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Kepala sekolah bekerja sama dengan guru untuk melakukan evaluasi dengan objektif agar hasil evaluasi benar-benar menunjukkan hasil belajar siswa yang sesungguhnya. Sehingga prestasi yang diraih oleh siswa merupakan kerja keras siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Evaluasi yang dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan objektif dapat mengukur kemampuan siswa akan berdampak pada peningkatan mutu yang berkelanjutan.

(http://aancools.wordpress.com/2011/07/12/makalah-adm-pendidikan-manajemen-kurikulum/)

  1. PERBAIKAN KURIKULUM

Kurikulum suatu pendidikan itu tidak bisa bersifat selalu statis, akan tetapi akan senantiasa berubah dan bersifat dinamis. Hal ini dikarenakan kurikulum itu sangat dipengaruhi oleh perubahan lingkungan yang menuntutnya untuk melakukan penyesuaian supaya dapat memenuhi permintaan. Permintaan itu baik dikarenakan adanya kebutuhan dari siswa dan kebutuhan masyarakat yang selalu mengalami perkembangan dan pertumbuhan terus menerus.

Perbaikan kurikulum intinya adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang dapat disoroti dari dua aspek, proses, dan produk. Kriteria proses menitikberatkan pada efisiensi pelaksanaan kurikulum dan sistem intruksional, sedangkan kualitas produk melihat pada tujuan pendidikan yang hendak dicapai dan output (kelulusan siswa).

Berkaitan dengan prosedur perbaikan, seluruh komponen sumber daya manusiawi, seperti: administrator, pemilik sekolah, kepala sekolah, guru-guru, siwaswa, serta masyarakat mempuanyai sangat berperan besar. Tanggung jawab masing-masing harus dirumuskan secara jelas. Selain itu aspek evaluasi juga harus dikaji sejak awal perencanaan program perbaikan kurikulum. Dengan evaluasi yang tepat dan data informasi yang akurat akan sangat diperlukan dalam membuat keputusan kurikulum dan intruksional.

Chamberlain telah merumuskan tindakan-tindakan yang dilakukan dalam perbaikan: (1) mengidentfikasi masalah sebenarnya sebagai tuntutan untuk mengetahui tujuan, (2) mengumpulkan fakta atau informasi tambahan, (3) mengajukan kemungkinan pemecahan dengan keputusan yang optimal dan diharapkan, (4) memilih pemecahan sebagai percobaan,(5) merencanakan tindakan yang dikehendaki untuk melaksanakan penyelesaian, (6) melakukan solusi percobaan, (7) evaluasi.

BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Terdapat tiga jenis organisasi kurikulum yaitu, Kurikulum Terpisah (Sparated Subject Curriculum), kurikulum berhubungan (Correlated Curriculum), dan kurikulum terpadu (Integrated Curriculum) .

Manajemen kurikulum adalah segenap proses usaha bersama untuk memperlancar pencapaian tujuan pengajaran dengan titik berat pada usaha meningkatkan kualitas interaksi belajar mangajar. Sedangkan kurikulum sendiri mempunyai arti yang sempit dan arti yang luas. Kurikulum dalam arti sempit adalah jadwal pelajaran atau semua pelajaran baik teori maupun praktek yang diberikan kepada siswa selama mengikuti suatu proses pendidikan tertentu. Sedangkan dalam arti luas kurikulum diartikan sebagai berikut. Sebenarnya terdapat tiga jenis organisasi kurikulum yaitu : Kurikulum Terpisah (Sparated Subject Curriculum), kurikulum berhubungan (Correlated Curriculum), dan kurikulum terpadu (Integrated Curriculum) .

Perencanaan adalah suatu proses memeprsiapkan serangkaian keputusan untuk mengambil tindakan dimasa yang akan datang yang diarahkan kepada tercapainya tujuan-tujuan dengan sarana yang optimal.
Evaluasi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pengembangan kurikulum itu sendiri. Melalui evaluasi, dapat ditentukan nilai dan arti kurikulum, sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan apakah suatu kurikulum dapat dipertahankan atau tidak, bagian-bagian mana yang harus disempurnakan. Evaluasi merupakan komponen untuk melihat efektivitas pencapaian tujuan.

Evaluasi juga merupakan bagian dari sistem manajemen yaitu perencanaan, organisasi, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Kurikulum juga dirancang dari tahap perencanaan, organisasi kemudian pelaksanaan dan akhirnya monitoring dan evaluasi. Tanpa evaluasi, maka tidak akan mengetahui bagaimana kondisi kurikulum tersebut dalam rancangan, pelaksanaan serta hasilnya.

Terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam melaksanakan manajemen kurikulum diantaranya :

1)      Produktivitas

2)      Demokratisasi,

3)      Kooperatif,

4)      Efektivitas dan Efesiensi

5)      Mengarahkan visi, misi, dan tujuan

Selain prinsip-prinsip tersebut juga perlu mempertimbangkan kebijaksanaan pemerintah maupun Departemen Pendidikan Nasional, seperti UUSPN No. 20 tahun 2003, kurikulum pola nasional, pedoman penyelenggaraan program, kebijaksanaan penerapan Manajemen Berbasis Sekolah, kebijaksanaan penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), keputusan dan peraturan pemerintah yang berhubungan dengan lembaga pendidikan atau jenjang/jenis sekolah yang bersangkutan.

Dalam proses pendidikan perlu dilaksanakan manajemen kurikulum untuk memberikan hasil kurikulum yang lebih efektif, efesien dan optimal dalam memberdayakan berbagai sumber maupun komponen kurikulum diantaranya meningkatkan efesiensi pemanfaatan sumber daya kurikulum, meningkatkan keadilan dan kesempatan pada siswa untuk mencapai hasil yang maksimal, meningkatkan relevansi dan efektivitas pembelajaran sesuai denga kebutuhan peserta didik maupun lingkungan sekitar peserta didik, meningkatkan efektivitas kinerja guru maupun aktivitas siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran, meningkatkan efesiensi dan efektivitas proses belajar mengajar, dan meningkatkan partisipasi masyarakat untuk membantu mengembangkan kurikulum.

DAFTAR PUSTAKA


[1] Mulyasa,2006: 40

[3] Dadang Suhardan dkk, 2009, “Manajemen Pendidikan”, Bandung; Alfabeta, hal : 191

[4] Oemar Hamalik, 2006, “ Manajemen Pengembangan Kurikulum”, Bandung; PT Remaja Rosyda Karya, hal :16

[5] Dandang Suhardan dkk, Op.Cit

[6] E. Mulyasa,2004, “Menjadi Kepala Sekolah Profesional”, Bandung, PT. Rosyda Karya, hal: 33

[10] Oemar Hamalik, 2006, hal: 20-21

[15] Dadang Suhardan dkk, 2009, hal 198

[16] Oemar Malik, 2006.

Bagi Yang Berkenan Untuk Download Power Point dari Manajemen Kurikulum Silahkan Download

DOWNLOAD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s