Makalah Pertolongan Pertama di Laboratorium ( Kecelakaan Pingsan )

DASAR-DASAR  PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN

(P3K)   DI LABORATORIUM

Bekerja di laboratorium membutuhkan  ketelitian dan kewaspadaan mengingat peralatan dan bahan yang digunakan mengandung potensi bahaya. Kecelakaan dapat terjadi kapan saja dengan berbagai akibat yang membahayakan kesehatan bahkan keselamatan jiwa pengguna laboratorium. Karena kecelakaan laboratorium kejadiannya selalu mendadak,  kekagetan yang ditimbulkan dan rasa takut melihat akibatnya membuat orang menjadi panik. Bisa ditebak, jika korban tidak segera mendapatkan pertolongan yang tepat dan atau mendapatkan penanganan yang keliru, nyawa korban yang menjadi taruhannya. Oleh  karena itu, pengetahuan tentang Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) penting untuk dimiliki orang -orang yang bekerja di laboratorium, termasuk laboran yang bertanggung jawab pada proses pembelajaran mahasiswa di laboratorium .

  1.    Kecelakaan Laboratorium

Kecelakaan di laboratorium dapat menimpa siapa saja, bukan hanya pemakai lab melainkan juga pengunjung bahkan pem bersih lab. Penyebab kecelakaan bisa dari faktor kimia seperti kontak dengan zat asam dan atau basa, faktor fisika seperti tersetrum listrik, serta faktor biologis seperti tergigit hewan coba. Pada setiap kecelakaan lab di sekolah khususnya, akan selalu diikuti dengan kekacauan dan kepanikan. Sebagai guru penanggung jawab P3K di lab, yang harus dilakukan pertama kali adalah menghilangkan kerumunan siswa di sekitar korban dan menata tempat kejadian, memberikan ruang terbuka yang adekuat untuk melakukan tindakan P3K , serta menenangkan dan menyamankan korban.

  1. Pengertian,  Tujuan  dan Prinsip  P3K

Pengertian pertolongan pertama pada kecelakaan adalah pertolongan yang diberikan segera setelah kecelakaan  dengan memberikan pengobatan dan perawatan darurat bagi korban sebelum pertolongan yang lebih akurat diberikan oleh dokter ahli. Walaupun t indakan P3K ini bersifat sementara,   tindakan P3K ini  diharapkan dapat mengurangi penderitaan, masa perawatan di   rumah sakit dan kecacatan pada korban . Pertolongan yang diberikan bersifat sederhana dengan peralatan dasar sederhana yang langsung diberikan di tempat kejadian kecelakaan dalam hal ini di laboratorium, sehingga tindakan P3K tidaklah dimaksudkan untuk memberikan pertolongan sampai selesai. Disamping upaya melakukan P3K, sebagai penolong kita berkewajiban tetap mencarikan pertolongan dari  petugas kesehatan  secepat mungkin. Tindakan P3K bersifat darurat namun menuntut kecepatan dan ketepatan agar dapat menyelamatkan penderita. Tujuan yang lain adalah  mencegah bertambah parahnya luka serta komplikasi seperti kecacatan atau infeksi penyerta akibat kecelakaan. P3K juga bertujuan m engurangi rasa nyeri dan cemas serta  menjaga ketenangan fisik dan mental penderita, sehingga akhirnya menunjang upaya penyembuhan.

  1. Prinsip pokok P3K

Prinsip pokok P3K  disingkat dengan  DRABC, yaitu: D ( danger, petugas P3K harus mengamankan dahulu situasi dan kondisi sebelum menangani korban), R(response, melakukan penilaian kesadaran  kepada korban secara langsung (ditepuk pipi, digoyangkan bahunya) maupun secara tidak lan gsung (dipanggil), A (airway , yaitu mengamankan jalan napas korban dengan membersihkan jika ada sumbatan atau benda asing), B ( breathing,  yaitu  mengecek laju pernapasan korban,  menjaga pernapasan korban agar  tetap belangsung dengan baik, me lakukan pernapasan buatan dari mulut jika terlihat pernapasan berhenti), serta C ( circulation, melakukan pemeriksaan tanda vital korban seperti denyut jantung, denyut nadi dan laju pernapasan korban). Jika korban sadar, posisikan dan pertahankan  jalan napasnya.

Jika tidak  ada tanda-tanda korban bernapas, berarti korban mengalami gangguan pernapasan. Penyebab gangguan bernapas adalah sumbatan jalan napas  seperti ketika siswa tersedak suatu benda, atau tak sengaja menelan benda yang berukuran besar, kelemahan atau kejang otot  pernapasan, dan menghisap asap  / gas beracun   karena kebocoran gas berbahaya di laboratorium, misal ether, khloroform, aerosol, dsb. Jika korban tersedak lakukan manuver seperti memukul dengan kuat bagian punggung diantara tulang belikatnya dengan posisi ko rban dalam keadaan membungkuk, atau mendekap korban dari belakang dan menekan keras-keras bagian tengah perutnya. Bila tidak ditemukan tanda-tanda korban bernapas spontan, tindakan   yang dilakukan adalah

memberikan pernapasan bantuan dengan:

1)      Mahasiswa dalam keadaan terlentang dan kepala ditengadahkan,

2)      Bersihkan jalan pernapasan  (hidung, mulut, dan kerongkongan)

3)      Memposisikan leher dalam keadaan ekstensi (menengadah) dengan manuver  Head Tilt, membuka lebar -lebar mulut korban dengan manuved  Chin Lift dan menarik rahang bawah korban dengan manuver Jaw Thrust sementara penolong jongkok disamping korban

4)      Memasukkan O2 keluarkan CO2 pada siswa sampai sadar  dengan dengan cara yaitu:

a ) Penolong menghisap napas sebanyak mungkin

b ) Hembuskan ke  mulut korban dan usahakan  tidak ada udara  yang bocor dengan

cara menutup lubang hidung siswa   dengan jari

c) Tiup via mulut : Dewasa 10  -  12 x/menit , interval 5 hitungan

5)      Perhatikan udara  yang  masuk ke paru -paru siswa apakah dadanya terlihat

mengembang, jika ada bukti dada mengembang, lepaskan mulut penolong agar  udara

pernapasan siswa  dapat  dibiark an keluar dari hidung dan mulut

6)      Lakukan hal ini  beberapa kali dan jika ada luka di mulut mahasiswa siswa, lakukan

pernapasan pada hidung siswa   dengan menutup  mulut.

Pada  pemberian bantuan napas buatan ini yang perlu diperhatikan adalah tidak efektif jika ada kebocoran karena lubang hidung tidak tertutup sepenuhnya atau mulut penolong tidak bisa sepenuhnya melingkupi mulut korban, kegagalan mempertahankan posisi jalan napas  tetap terbuka dan adanya obstruksi jalan napas yang pembersihannya tidak sempurna.

Jika denyut jantung tidak ada, lakukan Resusitasi Kardiopulmoner (RKP) atau  Resusitasi Jantung Paru (RJP) yang merupakan gabungan dari pertolongan napas buatan dengan pijat luar jantung, digunakan ketika seorang korban mengalami henti jantung dan henti napas. Adapun korban yang membutuhkan RJP syaratnya yaitu korban tidak berespon, tidak bernapas, denyut nadi karotis tidak teraba atau lemah yang mengindikasikan gangguan sir kulasi.

RJP dilakukan dengan membaringkan korban terlentang pada permukaan yang keras (lantai, papan, meja, dsb). P osisikan penolong berjongkok disamping korban, tentukan titik kompresi yaitu 2 jari dari ujung tulang dada ( processus xiphoideus  tulang  ster num ),  tekan  dengan men ekankan pangkal telapak tangan (2 telapak tangan saling menumpuk)  dalamnya  sekitar 4 -5 cm. Satu siklus terdiri dari 2x tiupan ke mulut, 15x tekanan dada  dst (jika penolong 1 orang) atau 5x tekan dada dan 1x tiupan mulut (jika penolong 2 orang). Lakukan pengecekan napas dan denyut nadi di arteri karotis, jika belum cukup kuat dilakukan pengulangan. Korban dapat tertolong jika RJP efektif, namun jika RJP tidak efektif dapat menimbulkan komplikasi seperti cedera pada tulang rusuk, luka dan perdarahan dalam, serta patah tulang pada tulang rawan dada.

Setelah Prinsip DRABC  diterapkan, maka bisa dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui ada tidaknya cedera/kegawatan lain yang menyertai. Apabila ada pendarahan dihentikan secepatnya. Upayakan agar penderita tetap sadar. Korban yang tidak sadar dan yang diduga mempunyai luka di perut tidak diberikan makanan atau minuman. Korban yang mengalami luka bakar atau keracunan,dalam keadaan sadar diberikan minuman dalam jumlah yang banyak, Lakukan tindakan  P3K secara cepat ,tepat, dan hati-hati. Tetaplah berjaga mewaspadai ancaman bahaya selanjutnya bagi korban. Tindakan dilakukan  untuk menenangkan korban. Jika  ada tanda shock, telentangkan korban dengan letak kepala lebih rendah dari pada bagian tubuh lain.  Apabila korban muntah-muntah dalam keadaan setengah sadar baringkanlah telungkup dengan letak kepala lebih rendah dari bagian tubuh lainnya. Cara ini juga dilakukan untuk korban – korban yang dikhawatirkan akan tersedak oleh darah, muntahan atau cairan lain  kedalam paru-parunya. Korban tidak boleh dipindahkan dari tempatnya sebelum dapat dipastikan jenis serta keparahan cidera yang dialami. Jika hendak diusung, hentikan perdarahan dan tulang yang patah yang harus di bedahi. Ketika diusung, kepala korban ada didekap pengusung yang belakang agar dapat memperhatikan keadaan korban.

KASUS KECELAKAAN  LABORATORIUM DAN TINDAKAN PERTOLONGANNYA

1.   PINGSAN  (SINKOP)

Pingsan  adalah keadaan kehilangan kesadaran sementara (sebentar) karena  aliran darah ke otak berkurang, seh ingga otak tidak mendapat cukup glukosa dan oksigen. Kejadiannya bisa berlangsung mendadak, cepat atau sebelumnya korban sudah merasakan mau pingsan. Agar tubuh tetap sadar, bagian otak yang dikenal dengan sistem pengaktif retikuler yang terletak di batang otak harus mendapat cukup aliran darah dan setidaknya satu belahan otak harus berfungsi. Pada kondisi pingsan, aliran darah mengumpul di bawah tubuh sehingga hanya sedikit yang didistribusikan ke otak.

Pingsan adalah salah satu mekanisme pertahanan alami dari tubuh untuk meminimalkan kerusakan yang terjadi dalam tubuh.  Faktor -faktor yang menyebabkan pingsan antara lain overstimulasi sistem saraf vagus (nyeri, ketakutan, emosi kemarahan, panik, stress, dan rasa sakit yang kuat), perubahan tekanan darah (kar ena terlalu lama berdiri atau karena aktivitas fisik yang berlebihan dan kurang istirahat), anemia (kurangnya asupan zat besi, penyakit atau perdarahan), dehidrasi (karena muntah, diare, kurang minum, keringat berlebihan dan luka bakar), syok, obat-obatan tertentu, hipoglikemia (misalnya karena puasa, terlambat makan, tidak sarapan), serta ketidakseimbangan elektrolit. Pingsan pada lansia lebih berbahaya daripada pingsan pada remaja dan orang dewasa.

Pertolongan pada keadaan pingsan bertujuan memperbaiki aliran darah ke otak, menenangkan dan menyamankan  siswa  setelah sadar.  Adapun tindakan yang dilakukan pada kondisi ini adalah sebagai berikut:

a.   Pencegahan

Jika siswa  merasa mau pingsan  (pusing berputar, mual, keringat dingin, penglihatan kabur, telinga berd enging), dudukkan  siswa   di lantai dan mintalah dia untuk meletakkan kepalanya diantara lututnya dan menarik napas panjang (membungkuk). Jika ada kecurigaan cedera leher, cedera kepala serius, cedera syaraf spinal, orang dengan gangguan pernapasan dan riwayat penyakit jantung, manuver ini tidak boleh dilakukan. Jika siswa sudah membaik, ketika berdiri lakukan perlahan- lahan.

b.   Pertolongan

Lakukan DR (Lindungi korban dari bahaya dan cedera, Pastikan korban mendapat udara segar dengan membaringkannya di tempat   yang nyaman, teduh, serta diatas alas yang datar, Rangsang kesadaran korban dengan memberi wangi-wangian atau minyak gosok di depan hidung). Baringkan korban dengan kaki ditinggikan dan ditopang misalnya dengan bantal atau tas. Buka baju terutama bagian atas, kendorkan pakaian bawah, pakaian dalam yang ketat, ikat pinggang,  dan segala sesuatu yang menekan leher.  Lap dahi dan wajah dengan air panas –  dingin bergantian  (jangan disiram). Jika korban mau muntah, miringkan kepala korban agar muntahan tidak ters edak masuk ke paru -paru.

Setelah pulih, tenangkan korban dan beri dukungan emosional.  Dudukkan korban secara bertahap, namun korban sebaiknya baru diberikan minum setelah benar-benar sadar untuk menghindari masukknya minuman ke saluran pernapasan.

c.   Segera mencari pertolongan medis

Jika siswa mengalami pingsan berulang, hilang kesadaran ketika duduk atau berbaring, muntah untuk alasan yang tidak jelas, tidak segera bangun jika dirangsang dengan bau -bauan dalam waktu > 5 menit, maka segera rujuk siswa ke sar ana kesehatan terdekat.

DAFTAR PUSTAKA

Bos, Nick, et al. 1995.  Workplace Health and Safety Handbook. Safe Work College of Workplace Health and Safety, South Brisbane.

Koesmadji W, dkk. 2004. Teknik Laboratorium. FMIPA Universitas Pendidikan Indonesia.

Muchsin Lubis, dkk.  1993/1994.  Pengelolaan Laboratorium IPA.  Materi Pokok Modul Universitas Terbuka, Depdikbud, Jakarta.

Stricoff, R. S., Walters, D. B. 1990.  Laboratory Health and Safety Handbook. John Wiley & Sons, Inc., New York.

Bagi yang ingin dalam bentuk POWER POINT silahkan download

DOWNLOAD

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s